PRAMUKA - Media Netnya Bunker

Media Blog Pramuka

Blog EntryReposisi & Revitalisasi PramukaSep 5, '07 7:49 AM
for everyone
Oleh T. BACHTIAR

KARENA asas kesukarelaan berubah menjadi kewajiban tanpa disertai tambahan keterampilan yang memadai, maka Gerakan Pramuka menjadi mandeg. Secara kuantitas, Pramuka pernah mengalami lonjakan yang dahsyat, namun bersama melonjaknya jumlah anggota tersebut, justru kualitasnya semakin menurun, menukik masuk ke lorong hitam.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka serta Kode Etiknya tak terbantahkan, bahwa Gerakan Pramuka mempunyai tujuan yang sangat mulia dalam membina generasi muda Indonesia yang mencintai negaranya, mencintai bangsanya.

Namun yang terjadi sejak kejar target sejuta anggota, praktik gerakan ini menjadi berubah. Di sekolah-sekolah, Gerakan Pramuka berubah menjadi sekadar gerakan memakai baju Pramuka setiap hari Jumat atau Sabtu. Mereka hanya memakai baju Pramuka yang diwajibkan untuk dibeli dari sekolah. Setelah itu tanpa ada upaya menambah wawasan dan keterampilan kepramukaan. Karena memakai baju Pramuka tanpa ujian dan keterampilan, maka kebanggaan sebagai anggota Pramuka menjadi luntur, bahkan menghilang.

Kemandekan gerakan Pramuka yang cukup lama itu sesungguhnya tidak menyurutkan semangat anak-anak muda untuk menjadi generasi muda yang dinamis sebagai pemandu. Karena Gerakan Pramuka menjadi tidak memiliki tantangan dan keterampilan, maka gerakan yang bertujuan mulia dalam membuna generasi muda ini menjadi kehilangan fokus gerakan di benak anak muda. Akibatnya Gerakan Pramuka tidak menjadi lagi denyut jantung anak muda. Ternyata brand image Gerakan Pramuka yang melemah itu tidak menyurutkan anak muda dalam beraktivitas yang bersifat kepramukaan. Mereka tetap dinamis dan kreatif dan mencari atau membentuk wadah-wadah baru yang dapat menyalurkan semangat jiwa mudanya secara positif.

Karena kualitas pembinaan di sanggar-sanggar Pramuka terus merosot, maka keberadaan gerakan ini menjadi sekadar formalitas, sekadar menjadi pelengkap struktur di sekolah-sekolah. Karena kepala sekolah biasanya otomatis sebagai majelis pembina gugus depan.

Kemandekan Pramuka yang sangat lama itu telah menyebabkan gerakan ini tidak menyadari telah kehilangan keterampilan dasarnya. Keterampilan-keterampilan dasar Gerakan Pramuka dimanfaatkan oleh aktivitas anak muda lainnya, yang dirasakan dapat memberikan jawaban akan hasrat mudanya. Keterampilan kepramukaan seperti Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) secara khusus telah dimanfaatkan oleh anggota Palang Merah Remaja (PMR), baris-berbaris dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), pengetahuan kepolisian dimanfaatkan oleh anggota Polisi Sekolah, keterampilan hidup di alam bebas telah dengan baik dimanfaatkan oleh siswa pencinta alam. Inilah yang disebut misteri kehilangan. Para pembina, instruktur dan anggota Gerakan Pramuka tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan keterampilan dasarnya.

Reposisi dan revitalisasi

Gerakan Pramuka yang tanpa keterampilan dengan brand image yang lemah, perlu segera diselamatkan dengan jalan sesegera mungkin mengadakan reposisi dan revitalisasi. Reposisi bisa berarti: 1. Penempatan kembali ke posisi semula, 2. Penataan kembali posisi yang ada, dan 3. Penempatan ke posisi yang berbeda.

Karena gerakan ini sudah kehilangan fokus pembinaannya sehingga ditinggalkan para kawula muda, maka kembali ke asas dan prinsip dasar gerakan semula merupakan langkah awal yang patut dipertimbangkan.

Peningkatan kemampuan pembina dan instruktur perlu ditingkatkan secara mendasar dan mendalam. Kursus-kursus pembina dan instruktur itu semestinya bukan sekadar pembinaan mental di ruang-ruang kelas seperti yang sering dilakukan selama ini. Langkah awal ini adalah jalan agar para pembina dan instruktur di sanggar-sanggar mempunyai keterampilan dasar kepramukaan yang andal dan teruji, bukan sekadar bisa tepuk Pramuka atau menyanyi Di Sana senang di Sini Senang.

Karena kemahiran dan keterampilan dasar gerakan kepramukaan itu mutlak dikuasai oleh para pembina dan instruktur, maka para pembina dan instruktur itulah yang harus menjadi prioritas pembinaan dalam langkah pertama.

Langkah kedua bila pembina dan instruktur sudah mahir dalam keterampilan dasar Gerakan Pramuka, maka anak-anak muda itu dilatih keterampilan-keterampilan dasar kepramukaan tersebut.

Berlatih dan terus berlatih sehingga terampil dan mahir. Anggota Pramuka menjadi sempurna karena berlatih, paling tidak menjadi jauh lebih baik. Tanpa latihan yang baik, tidak akan ada keterampilan. Karena tak memiliki keterampilan, maka anggotanya tak akan mempunyai kebanggaan, malahan bisa malu berbaju Pramuka dengan tidak memiliki kemahiran.

Revitalisasi gerakan Pramuka merupakan langkah yang sangat bijaksana untuk bangkit dari keterpurukan ini. Revitalisasi adalah proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatan kembali. Salah satu cara untuk merevitalisasi Gerakan Pramuka agar kembali ke prinsip-prinsip dasarnya adalah dengan cara membuat strategi pembinaan yang lebih menyeluruh.

Gerakan Pramuka sebaiknya cukup hanya pada tingkatan SLTA. Adanya Gerakan Pramuka di perguruan tinggi, sesungguhnya karena ketidakpahaman akan prinsip dasar gerakan ini.

Ini contoh langkah yang bisa dipertimbangkan untuk dilakukan di sekolah-sekolah. Misalnya pada semester satu dan dua seluruh siswa dibekali keterampilan dasar Gerakan Pramuka, namun tidak dalam kemasan baju Pramuka, seperti: baris-berbaris, P3K, cara hidup di alam bebas, dan lain-lain sampai tingkat terampil dan mahir. Baru pada semester 3 mereka diperkenankan untuk memilih wadah mana yang akan diikutinya setelah mereka diberi keterampilan dasar tersebut.

Penutup

Ini adalah kejadian nyata beberapa tahun yang lalu di Ranca Upas, Ciwidey, Kabupaten Bandung. Tempat berkemah ini berada di kaki Gunung Patuha yang sejuk, malah teramat dingin pada malam hari. Pada musim libur sekolah, banyak pelajar yang berkemah di sini, tak terkecuali anggota Pramuka. Saat melintas arena perkemahan itu, dengan riang para siswa ceria sesuai dengan jiwa mudanya, mengenakan celana panjang dan jaketnya yang hangat warna-warni, tahan hembusan angin dan kedap air. Kupluk pembalut kepalanya pun penuh warna dan modis, bahkan ada beberapa anak yang memakai kaos tangan.

Di tempat terpisah yang tak jauh dari sana, ada anggota Pramuka dari sebuah SMA sedang mengadakan pengarahan, mereka berkumpul dalam posisi melingkar. Anggota putrinya terlihat masih memakai rok dengan baju seragamnya tanpa jaket. Padahal malam itu dinginnya bukan main. Dari contoh kecil di atas, anak muda mana yang mau malam-malam yang menggigil itu hanya memakai rok dan baju tanpa jaket?

Pramuka yang seharusnya sangat paham akan keadaan alam, sehingga bisa melindungi diri dari keadaan hawa yang dingin, yang terjadi sebaliknya. Sementara siswa lainnya berkemah dengan sehat dan bergaya, anggota Pramuka tak paham, bahwa kalau udara dingin harus memakai penutup tubuh lebih rapat lagi, sehingga dapat mempertahankan diri dari dinginnya hawa, sehingga sehat selama kegiatan.

Saya berpapasan dengan salah seorang pembinanya, lalu saya mengajukan usul agar peserta perkemahan, khususnya anggota putri untuk memakai celana panjang dan jaket. Jawabannya sungguh di luar perkiraan saya. ”Bapak menghina Pramuka!” katanya sambil memanggil pembina yang lainnya dan mendatangi saya dengan tuduhan telah menghina Pramuka.

Bulan Juli 2006 ini di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Sumedang, Jawa Barat, akan diselenggarakan Jambore Nasional Gerakan Pramuka. Mudah-mudahan pertemuan ini menjadi ajang standaridisasi keterampilan atau kemahiran serta strategi latihan dan pembinaan. Latihan bersama anggota Pramuka dalam Jambore itu mudah-mudahan dapat mengasah keterampilan dasar kepramukaan sehingga dapat dikuasai dengan baik.

Dalam Jamnas ini semoga terjadi reverberasi, aktivitas yang dapat menimbulkan gema reposisi dan revitalisasi Gerakan Pramuka. Kalau tidak, saat pulang ke daerahnya, Pramuka tetap mengalami nasib tragis, walau pembinanya mulai lurah hingga bupati atau gubernur!*** 


Blog EntryUjian SKU Dalam Gerakan PramukaAug 26, '07 7:31 AM
for everyone
Oleh Drs. Usman Atmadimaja mg  

”Kita tetap taat pada prinsip dasar pendidikan moral kepramukaan, tetapi kita harus memperbarui acara kegiatan kepramukaan yang sesuai dengan aspirasi generasi muda dan kebutuhan masyarakat saat ini”, (Sri Sultan Hamengku Buwono IX)

SEIRING kemajuan zaman, pergeseran nilai dalam kehidupan berlangsung tanpa bisa dicegah. Adalah naif bila gerakan pramuka sebagai wadah pendidikan nonformal bagi anak-anak dan remaja di tanah air tidak menyikapi perubahan ini. Yang harus dilakukan oleh gerakan pramuka tentunya bukan mencegah perubahan, tetapi berusaha menyesuaikan perubahan itu sehingga pramuka tidak ketinggalan zaman.

Salah satu wacana yang sekarang berkembang di kalangan pramuka adalah perlunya mengkaji ulang penerapan syarat-syarat kecakapan pramuka (SKU) sebagai salah satu prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan. Adalah Gubernur Jawa Barat sendiri, Kak Danny Setiawan selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka Jabar yang menyatakan bahwa sekarang ini sudah saatnya untuk merelevankan SKU agar sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini (”PR” 10/7). Beliau mengusulkan agar Gerakan Pramuka melaksanakan reformasi secara komprehensif pada ujian SKU sehingga bisa mengundang minat para remaja untuk tertarik menjadi anggota pramuka.

Namun persoalannya, apakah memang SKU ini sudah ketinggalan zaman? Apakah benar SKU yang kurang relevan menyebabkan pramuka terpuruk seperti sekarang ini?

Jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya diupayakan Litbang Kwartir Nasional. Yang jelas, sesuai S.K. Kwarnas No. 088 Tahun 1974, SKU merupakan garis-garis besar program pembinaan pramuka yang harus dilaksanakan oleh para pembina secara optimal, terarah, dan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan karena merupakan proses pendidikan untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka.

Sedangkan bagi peserta didik, mengikuti ujian SKU adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ujian SKU untuk semua tingkat dan golongan pramuka baik itu Siaga, Penggalang, Penegak maupun Pandega merupakan tantangan tersendiri yang harus dihadapi mereka dengan upaya sungguh-sungguh sehingga kelak mereka menjadi manusia yang berkepribadian tinggi, berwatak luhur, cerdas, terampil, dan juga menjadi warga negara yang berpancasila yang setia dan patuh kepada NKRI (AD Pramuka Pasal 4). Maka oleh karena itu, seandainya butir-butir ujian SKU ini dilaksanakan dengan tepat, terarah, dan jujur, serta tidak dimanipulasi, diharapkan peserta didik akan menjadi pribadi-pribadi yang cageur, bener, bageur, pinter, jeung singer.

Sayangnya, secara jujur harus diakui bahwa selama ini pelaksanaan ujian SKU digugus depan pramuka untuk semua tingkat dan golongan ditengarai masih jauh dari harapan. Banyak hambatan dan kendala yang ditemui di lapangan sehingga akibatnya ujian SKU belum dilaksanakan secara optimal.

Berdasarkan pengamatan penulis yang pernah aktif di Andalan Cabang/Ranting selama ini diperoleh kesan masih banyak pembina pramuka yang belum mengacu sepenuhnya kepada ”kurikulum” pembinaan pramuka yang disebut SKU ini. Cara menguji SKU di kalangan pembina juga tampak kurang seragam.

Alih-alih direvisi, perekrutan pembina pramuka di pangkalan gugus depan sekolah juga masih harus dibenahi. Akibat ”asal-asalan” mengangkat pembina, sudah dapat dipastikan apa-apa yang disampaikan kepada peserta didik akan menjadi kurang menarik dan cenderung membosankan. Padahal seyogianya materi yang disampaikan oleh pembina harus dikemas secara kreatif dan inovatif sehingga menjadi kegiatan yang menarik, mendidik, menyenangkan, dan berkesan sepanjang hidupnya.

Sehebat apa pun SKU, bila tidak dibarengi dengan kemauan keras dan kesadaran tinggi para peserta didiknya untuk menempuh SKU dengan sungguh-sungguh, Gerakan Pramuka akan tetap terpuruk seperti sekarang ini. Oleh karena itu, tekad untuk menjadikan Provinsi Jawa Barat sebagai provinsi pramuka seyogianya ditindaklanjuti. Bukan hanya dengan meningkatkan terus jumlah anggotanya, melainkan juga harus diperhatikan usaha untuk meningkatkan kualitas peserta didiknya.*** 

Penulis, Pembina Pramuka di MA. Darussalam Sumedang

(Harian Pikiran Rakyat)



Blog EntryRevitalisasi Pramuka Tidak GampangAug 25, '07 5:16 AM
for everyone
YOGYA (MERAPI) - Menanamkan nilai-nilai Praja Muda Karana (Pramuka) kepada generasi muda saat ini bukan pekerjaan gampang. Bagi mereka, Pramuka masih dicap sebagai perkumpulan orang-orang yang suka tepuk tangan dan kurang kerjaan. Anggapan itu sulit ditepis. Mengingat laju modernisasi budaya dan teknologi yang melesat hebat membuat generasi muda ogah-ogahan mengikuti organisasi sukarela tersebut. Alhasil, hanya 'orang-orang tua' yang concern atau perhatian menjalankan misi Pramuka.

"Memang sulit mengembalikan semangat Pramuka seperti dulu. Banyak orang melihat peran Pramuka tidak ada, karena mereka hanya melihat dari seragam bukan dari pribadi orangnya," kata Kepala Lembaga Kader Pendidikan Pramuka Cabang Kota Yogyakarta Ki Sutikno kepada wartawan di Balaikota, Selasa (14/8).

Padahal, lanjut dia, Pramuka mengajarkan dasar-dasar kehidupan manusia. Pramuka juga mengajarkan cara bertahan hidup di kala susah, hingga berjuang ketika bangsa ini membutuhkan. Karena sejak dulu, Pramuka selalu mendidik kadernya untuk hidup dan mengenal alam terbuka. Wajar, jika Pramuka mirip outbond, karena Pramuka lahir lebih dulu ketimbang kegitan alam bebas itu. 

"Hari gini ribet ngapalin morse atau semapor kan sudah ada handphone. Coba bayangkan Anda hidup di tengah hutan yang tidak ada sinyal. Kita juga bisa belajar dari bencana gempa setahun silam," katanya.

Saat ini, jumlah kader Pramuka di Kota Yogya 20.000 orang. Penyumbang terbanyak adalah siswa SD dan SMP. Tidak seperti dulu, ekstrakurikuler Pramuka di SMP tidak lagi dienyam hingga kelas 3 karena alasan para siswa harus mengejar prestasi. 

Di Hari Jadi ke-46 Pramuka, revitalisasi Pramuka mutlak dilakukan. 'Aku Bangga Jadi Pramuka' adalah tema berikutnya yang harus dipikirkan. Sebab, perjuangan meneruskan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Bapak Pandu Sedunia Lord Robert Baden-Powell masih panjang. "Pramuka adalah perkumpulan sukarela, bukan organisasi wajib. Pramuka itu seleksi alam," kata Ki Sutikno.

Blog Entry Gerakan Pramuka Tetap Penting dan RelevanAug 25, '07 4:59 AM
for everyone

Hari gini masih ke latihan pramuka? Mungkin begitu pertanyaan sebagian remaja saat melihat temannya ikut kegiatan pramuka. Cukup banyak yang menganggap bahwa pramuka kegiatannya itu-itu saja, tidak lebih dari tepuk tangan, bernyanyi, dan berkemah. Pramuka nggak penting, deh. Tapi apa betul?

Tentu saja tidak. Hal itu juga diungkapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku Pramuka Utama dan Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka. Presiden mengatakan, Gerakan Pramuka tetap penting dan relevan, dan karena itu harus ditingkatkan. Watak dan karakter bangsa yang dibangun di negeri ini bukan hanya membentuk manusia yang cerdas berpengetahuan, namun juga yang tangguh kepribadiannya dan luhur budi pekertinya.

Hal itu dikatakan Presiden ketika menjadi pembina upacara Hari Pramuka ke-46, di Lapangan Gadjah Mada, Kompleks Lemdikanas, Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (14/8) pagi.

Menurut Presiden, sejak krisis melanda Tanah Air, telah terjadi penurunan bahkan kelesuan Gerakan Pramuka. Ada yang berpendapat, Gerakan Pramuka tidak penting dan hanya membuang-buang waktu. "Kegiatannya itu-itu saja, lebih baik bermain komputer agar lebih pintar. Saya katakan, itu tidak benar," kata Presiden yang hadir bersama Ibu Negara, Ani Yudhoyono.

Menurut Presiden, Gerakan Pramuka pada hakikatnya adalah bagian utuh dari pendidikan bangsa dan pembangunan nasional. Karena itu revitalisasi harus dilaksanakan dan dilanjutkan. Ada beberapa alasan, di antaranya tujuan dan sasaran Gerakan Pramuka yang sangat baik. "Gerakan Pramuka bertujuan membangun watak dan karakter remaja dan pemuda untuk menjadi tangguh dan kuat. Selain itu, juga membangun rasa cinta bangsa dan cinta Tanah Air, atau yang biasa disebut patriotisme dan nasionalisme," kata Presiden.

Pada kesempatan itu Presiden Yudhoyono berpesan kepada seluruh anggota Pramuka untuk menyelamatkan diri sendiri dari ancaman narkoba dan berbagai macam tindakan yang menjerumuskan remaja dan pemuda. Presiden juga berpesan agar Pramuka menjadi contoh berperilaku baik dan pribadi yang berbudi luhur.

Dalam acara yang dihadiri juga oleh sejumlah menteri, Kapolri, Gubernur DKI Jakarta, dan para tokoh Pramuka, Presiden mengalungkan dan menyematkan tanda-tanda penghargaan Gerakan Pramuka. Di antaranya kepada Ketua Komite Kepanduan Asia-Pasifik, Eric Khoo yang berasal dari Malaysia, juga kepada Chief Commissioner Singapore Scout Association Nicholas Tang, Chief Commissioner Persekutuan Pengakap Negara Brunei Darussalam Haji Badar bin Haji Ali, International Commissioner National Scout Organization Thailand Sutham Phanthunsak, dan salah satu pimpinan Persekutuan Pengakap Malaysia Nasaruddin.

 

Sumber: Suara Pembaruan, 14 Agustus 2007


Blog EntrySumanto Nasehati Anggota Pramuka (berita)Aug 25, '07 4:46 AM
for everyone

TAK dinyana, ternyata Sumanto masih menjadi magnet bagi warga Purbalingga. Hal itu terlihat ketika SMK Muhammadiyah Bobotsari mengundangnya dalam roadshow Gerebek Indonesia Merdeka 2007 di lapangan Desa Pekiringan, Sabtu (4/8).

Ketika itu, Kepala SMK Fauzan Anwar sedang menyampaikan sambutan. Masyarakat yang berkumpul di lapangan masih duduk menyebar. Namun begitu mobil yang ditumpangi Sumanto dan pengasuhnya KH Supono Mustajab datang, mereka bergegas beranjak dari duduknya.

Dan ketika rombongan itu keluar dari mobil kemudian duduk di deretan kursi tamu undangan, masyarakat langsung berjubel rapat mengelilingi area itu. Sampai-sampai Fauzan sempat menghentikan sambutannya karena tidak mengira respon warga seperti itu saat melihat Sumanto.

Penampilan manusia unik itu mengundang senyum. Pemakan mayat Ny Rinah beberapa tahun silam itu memakai seragam pramuka, lengkap dengan topi petnya. Namun wajahnya terlihat sangar karena rambutnya gondrong. Kumisnya tebal tetapi tidak rapi.

Ketika dipersilakan naik ke panggung, Supono dan rombongannya harus bersabar menunggu Sumanto menyelesaikan aktivitasnya. Ya, warga Desa Pelumutan, Kecamatan Kemangkon itu belum selesai melinting rokok tingwe (ngelinting dewek). Ketika ditawari rokok bungkusan, dia menolak.

Dia kembali mengundang senyum ketika diberi kesempatan untuk menasehati 450 anggota pramuka penegak dari SMK Muhammadiyah Bobotsari itu. Dengan mantap, dia menyebut mereka adik-adik pramuka siaga. Padahal pramuka siaga itu adalah para siswa SD.

Seperti biasanya, Sumanto kalau ngomong banyak yang tidak nyambung. Kalimatnya banyak yang tidak tertata, pating pecotot, sehingga terkesan asal bunyi. "Jadi pramuka itu harus disiplin dan jujur. Pramuka Siaga tidak hanya bertempur secara fisik tetapi juga ekonomi," katanya.

Pun di saat dia mengajak menyanyikan "Di Sini Sedang di Sana Senang", warga tidak bisa mengikutinya. Bahkan malah bengong. Sebab belum saatnya masuk reff: Lalalala..., dia sudah lalalala dulu. Lalu tiba-tiba tanpa riting, dia bernyanyi entah judulnya apa tetapi seperti orang nembang Jawa.

Sumanto nampaknya menyadari pendengarnya bingung mendengarkannya. "Maaf, saya ini tidak ada persiapan memberi ceramah di depan adik-adik siaga. Jadinya saya gelagepan seperti ini. Karena itu saya akhiri saja," katanya tiba-tiba sambil mengembalikan mik ke tempatnya. (Suara Merdeka)


Oleh NANAN KUSTIATI, S.Pd.

Anggaran Dasar Gerakan Pramuka menargetkan bahwa upaya dan usaha untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka adalah diarahkan pada pembinaan watak, mental, emosional, jasmani, bakat, serta peningkatan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 Kepramukaan ialah proses pendidikan luar lingkungan sekolah dan di luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis, yang dilakukan di alam terbuka dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak.

Melihat uraian di atas, jelas bahwa kegiatan kepramukaan adalah kegiatan menarik yang dilakukan di alam terbuka. Kegiatan ini merupakan salah satu ciri khas pelaksanaan kegiatan Pramuka yang membedakan kegiatan tersebut dengan kegiatan di luar kepramukaan.

Bagaimana tidak, saat ini ada sebagian gugus depan yang melaksanakan kegiatan kepramukaan terpaku dilaksanakan di lingkungan sekolah, bahkan untuk kegiatan berkemah pun dilaksanakan di sekolah, dengan menggunakan ruang belajar sebagai arena kegiatan.

Padahal, kegiatan berkemah merupakan kegiatan yang sangat digemari para peserta didik, apalagi menjelang liburan bahkan pada saat liburan sebagai agenda kegiatan yang telah disiapkan oleh peserta didik, di sela-sela acara keluarga ataupun acara lainnya.

Sebenarnya, kegiatan perkemahan merupakan kegiatan di alam terbuka yang kebanyakan dilakukan di hutan, pegunungan, pantai, ataupun tempat lain yang layak dipergunakan untuk berkemah.

Dalam kegiatan kepramukaan, berkemah merupakan salah satu syarat yang tercantum dalam SKU. Hal ini menjadi keharusan bagi peserta didik untuk melakukan perkemahan agar bisa menempuh SKU tersebut. Dengan kata lain, peserta didik harus bisa bersatu dengan alam, di mana dalam acara perkemahan tersebut peserta didik bisa melaksanakan kegiatan berupa penjelajahan, mendaki gunung, berenang, memancing, serta mempelajari atau mengambil gambar/foto flora dan fauna yang ada di sekitar perkemahan.

Maka, kalau kegiatan perkemahan dilaksanakan di sekolah rasanya kurang mencapai sasaran yang telah ditetapkan kecuali untuk golongan siaga. Karena, dengan melakukan kegiatan perkemahan di alam terbuka, seperti bumi perkemahan, hutan, dll. peserta didik akan diberikan tantangan oleh keadaan alam sekitarnya. Hambatan dan rintangan tidak ada yang tidak bisa dikerjakan, semua kesulitan harus bisa diselesaikan.

Selain itu, kegiatan kepramukaan yang selalu dilaksanakan di lingkungan sekolah merupakan suatu kejenuhan bagi peserta didik sehingga lama-lama peserta didik akan merasa bosan dan malas mengikuti kegiatan latihan, karena setiap saat baik latihan pramuka maupun belajar tempatnya selalu begitu saja, atau di tempat itu-itu saja tidak ada variasi.

Jadi, tidak salah apabila kita membuat rencana latihan dengan menggunakan alam terbuka sebagai media latihan. Karena sudah jelas disebutkan bahwa kepramukaan adalah kegiatan yang dilaksanakan di luar sekolah ataupun lingkungan keluarga yang dilaksanakan di alam terbuka. Dengan demikian, kegiatan kepramukaan khususnya kegiatan perkemahan dilakukan di luar lingkungan sekolah, dalam arti di alam terbuka sebagai tujuan untuk mendidik dan membina peserta didik agar mereka bisa survive/bertahan di alam dengan segala macam rintangan, hambatan, dan alakadarnya yang ada pada dirinya. Dengan melakukan kegiatan di alam terbuka, peserta didik diharapkan terhindar dari kejenuhan akan rutinitas kehidupan sehari-hari.

Dengan kegiatan di alam terbuka, peserta didik bisa bersatu dengan alam, dan alam terbuka akan memberikan banyak pelajaran bagi peserta didik. Oleh karena itu, sangat tepat kalau salah satu media yang efektif membentuk kepribadian seorang Pramuka adalah alam semesta. Dia bisa hidup dan bertahan dengan alam karena alam akan bersahabat dengan kita apabila kita mau melestarikan dan menjaganya dari usikan-usikan tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.*** 

Penulis, Pembina Satuan Tegak Gudep KB 21006.



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.